Wednesday, November 18, 2009
Dua-Tiga Tahun
; sebuah catatan di pagi (yang tidak lagi) buta
Tanpa terasa nafas pemberian Yang Kuasa ini semakin bertambah sekaligus berkurang; bertambah ketika melihat angka yang semakin banyak dan berkurang karena lama nafas yang telah dituliskan-Nya ini semakin terkurangi dengan angka yang muncul hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan dan pada akhirnya tahun demi tahun.

Pagi ini, saat mata ini terbuka dan (seperti biasa) membuka facebook, saya merasakan perasaan yang bercampur; senang, sedih, bahagia, dan haru meyerang saya dalam sekali waktu.

Saya senang, bahagia sekaligus terharu ketika mendapati kawan-kawan yang pernah berinteraksi dengan saya masih ingat akan waktu di mana saya untuk kali pertama menghirup nafas di dunia dan menyempatkan diri mendoakan hidup saya. Sungguh, ini sangat berarti untuk seorang yang lahir 23 tahun lalu ini karena keluarga yang paling dekat dengannya adalah kawan-kawan yang ditemui dalam perjalanannya. Bagi saya, kawan adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan melebihi segala, bahkan mungkin melebihi keluarga yang masih mempunyai hubungan darah. Mugkin terdengar aneh, tetapi memang itulah yang saya rasakan selama ini, semenjak saya mulai meninggalkan rumah, mencari pengalaman baru di dunia baru bernama perantauan. Yah, sejak pertama kali mulai hidup di asrama samping makam Bonoloyo di kota Solo, sejak saat itu pula saya merasakan betapa kawan-kawan saya adalah orang yang tidak akan pernah terganti dalam hidup saya, pun ketika saya berada di Rembang dan akhirnya menginjakkan kaki di Negeri Seribu Menara ini; kawan adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan pada saya.

Tak terhitung banyaknya pelajaran dan pembelajaran yang saya peroleh dari kawan-kawan yang pernah saya temui. Mereka adalah guru yang sangat tidak ternilai harganya dalam kehidupan ini. Sangat banyak dan sangat luar biasa segala pelajaran dan pembelajaran yang saya dapatkan dari kawan-kawan yang pernah berinteraksi dengan saya, meskipun tanpa pertemuan. Pertemuan dan bukan, semuanya tidaklah terlalu penting, pertemanan dan persahabatan bukan dilandasi pertemuan, tetapi kepercayaan. Dan saya percaya, kawan-kawan sangat banyak memberi kebaikan untuk saya. Tanpa bertemu kawan-kawan, saya tidak yakin tulisan ini akan ada.

Dan tidak terlupa, saya meminta maaf jika selama berinteraksi diri ini pernah menoreh luka di hati kawan-kawan. Semua karena saya hanya manusia biasa, bukan malaikat yang dicipta tanpa dosa.

Di satu sisi, bukan berarti saya melupakan keluarga [bapak, ibu, kakak, adik, simbah, serta keluarga besar bapak dan ibu saya] di mana untuk kali pertama saya dilahirkan dan tempat pertama saya diajarkan untuk mengenal kebaikan. Sampai kapan pun saya tidak akan bisa membalas kasih sayang dan segala apa yang telah tercurahkan untuk saya. Dan sangat perlu kiranya meminta maaf karena dengan segala apa yang merka berikan, justru saya memposisikan keluarga di urutan kedua setelah kawan-kawan saya. Tapi, memang seperti itu yang saya rasakan selama ini; saya lebih senang berlama-lama dengan kawan daripada keluarga. Sekali lagi maaf untuk semua keluarga karena belum bisa membaktikan diri.

Pada satu sisi, pagi ini saya merasa sedih, sangat sedih. Pada umur yang sudah 23 tahun ini, diri ini merasa masih belum juga bisa memberikan hal yang bermanfaat untuk orang lain. Kekurangan yang semakin hari semakin menumpuk membuat saya tertinggal jauh dari langkah-langkah yang dulu mengawali perjalanan bersama-sama. Mohon diri senantiasa didoakan dan diingatkan untuk tidak banyak membuang hidup yang terlalu beharga untuk disiakan ini.

Sungguh pagi ini terasa indah, ketika menemukan kawan yang masih mau peduli dan berbagi karena hidup memang terasa lebih indah dengan cinta dan persahabatan.


Imaroh 61, 18 November 2009

 
posted by elchecago at 10:19 PM | Permalink | 0 comments
Sunday, October 18, 2009
Kuliah
Besok sore, tanggal 19 Otober 2005, tepat 4 tahun yang lalu, untuk kali pertama saya menginjakkan kaki di bumi Negeri Para Nabi [dan para Fir'aun pastinya], Negeri Seribu Menara dan entah apalagi julukannya. Untuk apa...? Untuk belajar, kataku, tekadku. Yah, belajar, dan tentu saja di Al Azhar. Hampir bisa dipastikan bahwa semua orang tahu akan kebesaran nama Al Azhar [karena saya pikir tetap saja ada orang yang tidak tahu Al Azhar. Jangankan Al Azhar, presiden sendiri saja masih ada yang tidak tahu...hahaha].

Ah, sudah cukup bernostalgia tentang 4 tahun lalu, tentang ketika pertama kali datang. Dan tak perlu panjang lebar saya ceritakan karena saya tidak ingin bercerita tentang sebuah kedatangan, tidak bercerita tentang waktu itu. Saya hanya ingin bercerita bahwa saya menjadi salah satu orang yang ga mutu [untuk tidak mengatakan keterlaluan] dalam urusan kuliah [semoga tulisan ini membuat saya sedikit demi sedikit mengurangi sikap keterlaluan itu. Saya masih punya cita-cita untuk tidak keterlaluan lagi].

Mengapa saya katakan 'keterlaluan'...? Tentu saja karena banyak hal; kuliah [yang pasti] hanya sebulan sekali, itupun mengambil beasiswa, jarang ikut pelajaran di kelas [ untuk tidak mengatakan 0, sekian persen saja kuliahnya. Sumpah, saya pernah ikut muhadhoroh, jadi tidak bisa dikatakan tidak pernah...hehehe], lalu...Dan [lalu lalang lalu lintas siang tadi terlintas dipikiran saya] salah satunya; dengan bangga [pamer] pasang status di yahoo atau FB ketika "mengunjungi" kuliah, kampus. Yah, rasa bangga saat datang ke kuliah membuat saya merasa ingin menulis, mengkritik diri sendiri [dengan harapan orang-orang ikut tergelitik dan mengingatkan saya ketika lalai]. Ini saya bercerita diri saya sendiri loh ya, bukan orang lain. Kalau ada yang [merasa] sama, pasti suatu kebetulan...:)

Saya beberapa hari ini bertanya-tanya; apa pantas seorang mahasiswa [seperti saya] ini bangga ketika [berhasil] mengunjungi kampus...? Bukankah kuliah itu sebenarnya hal yang biasa saja dan memang wajib kita lakukan..?! Seolah-olah kampus adalah tempat pemujaan yang sakral; untuk ke sana mesti naik gunung, berjalan beberapa hari tanpa makan dan minum dan butuh perjuangan yang berdarah-darah, sehingga ketika berhasil berada di tempat itu, dengan bangga kita [pamer] menulisnya di status YM atau FB. Pantas ga yah...? Saya masih bertanya pada diri sendiri [dan yang membaca tulisan ini].

Kawan, tolong ingatkan saya, tegur saya jika satu saat nanti saya dengan bangga [pamer] menulis status; mau ke kuliah, sedang di kuliah, capek pulang dari kuliah dan status-status yang membanggakan diri bercengkrama dengan kuliah. Sekali lagi ini cerita dari saya, berbagi pengalaman agar kawan-kawan mau mengingatkan saya yang bandel ini...

Terimakasih.... Untuk yang sudi membaca dan mengingatkan...
 
posted by elchecago at 3:19 PM | Permalink | 0 comments
Friday, October 09, 2009
Catatan Hari Ini
Yang aku takutkan benar-benar terjadi; setelah sekian lama tidak menulis, otak ini sulit sekali berpikir untuk sekdar diajak menuang kata.

Yah, saat ini saya sedang butuh obat. Obat untuk bisa menemukan inspirasi-inspirasi dan menuangnya dalam goresan kata-kata.

Kawan, berikan obat itu padaku...Cepat berikan sebelum semuanya terlambat; mati.
 
posted by elchecago at 5:45 AM | Permalink | 1 comments
Sunday, May 24, 2009
Dengan Sebuah Kesederhanaan
Beberapa waktu lalu, ku katakan padamu bahwa aku akan menutup pintu itu untuk sementara waktu. Aku sendiri tidak membatasi kata 'sementara' itu sampai berapa jam, berapa hari, berapa minggu, berapa bulan atau bahkan barapa tahun. Aku hanya ingin menutupnya.Ya, untuk sementara tutup buku namun bukan berarti tidak akan membukanya kembali.

Benar katamu, memang aku membutuhkan kesendirian untuk sementara waktu, berdiam di ruang yang selama ini ku buka lebar-lebar untuk siapa saja. Aku butuh sebuah kesendirian untuk sekedar melihat langkah-langkah yang ku tinggalkan, mengoreksi jejak-jejak kesalahan masa lalu yang tak mungkin untuk ku hapuskan dari ingatan. Bukan, bukan untuk bernostalgia dengan masa lalu, tapi untuk mengingatkanku agar kesalahan serupa tak lagi terulang.

Setelah beberapa waktu, saat aku merasa siap, aku putuskan untuk kembali membuka pintu itu, untuk siapa saja. Aku tak ingin terlalu lama berada di ruangan itu sendirian, tak berkawan., karena itu membuatku merasa tidak nyaman. Aku membukanya lebar-lebar untuk siapa saja, untukmu, untuknya dan mungkin untuk orang-orang yang belum pernah ku temui sekalipun. Namun jangan kau kira aku akan menjamu kehadiranmu dan kehadiraan mereka dengan jamuan mewah; daging berlimpah, anggur mewah, buah-buahan segar serta sajian-sajian yang biasa kau temukan dalam istanamu. Maaf saja jika satu ketika kau datang dan melewati pintu itu, aku hanya akan menyajikan sebuah kesederhanaan. Kesederhanaan yang ingin ku ciptakan dan ku ajarkan kepada mereka yang mencoba memasuki pintu itu. Ya, pintu itu kini terbuka dengan lebar...maka masuklah dengan sebuah kesederhanaan.
 
posted by elchecago at 1:27 PM | Permalink | 1 comments